Upaya Adu Domba Jokowi dan Prabowo

Senin, 12 Februari 2024 – 16:31 WIB

Jakarta – Belakangan ini Viral di media sosial sebuah video berisi pernyataan Connie Rahakundini Bakrie, mengenai isi pembicaraan dirinya dengan Ketua Tim Kampanye Nasional atau TKN Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani. 

Baca Juga :

Kronologi HP Gus Miftah Ditemukan Usai Kecopetan di Kampanye Prabowo-Gibran

Dalam video tersebut, Connie menyebut Rosan mengatakan bahwa Prabowo Subianto hanya akan menjadi Presiden RI dua tahun saja. Kemudian, masa jabatan Presiden akan dilanjutkan Gibran Rakabuming Raka jika menang Pilpres 2024. 

Pengamat militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie

Photo :

  • Instagram Dr. Connie Rahakundini Bakrie

Baca Juga :

Momen Cheverly Amalia Nyoblos Pemilu di New York, Antre Sampai 2 Jam

Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi menilai pernyataan Connie Rahakundini sangat tendensius dan berbahaya. Menurutnya, Connie diduga berupaya mengadu domba Jokowi dan Prabowo.

“Jelas tendensius dan politik pecah belah sangat berbahaya terutama di tahun politik yang tensinya memang sudah panas karena dapat menimbulkan kegaduhan, kerusuhan dan kekacauan yang akan berdampak pada terancamnya stabilitas di berbagai bidang,” kata Haidar Alwi, dikutip Senin, 12 Februari 2024 malam.

Baca Juga :

Elite PSI Sayangkan Munculnya Film Dirty Vote di Masa Tenang: Tiba-tiba Saja Dibuat Gaduh

Connie dinilai berusaha merusak elektabilitas Prabowo-Gibran dari dalam dengan isu negatif. Namun, menurut Haidar, cara-cara tersebut tidak akan berhasil.

“Baru-baru ini kan ramai rakyat dibenturkan dengan Jokowi dan Prabowo-Gibran melalui protes para akademisi dan guru besar. Hasilnya mental, demo mahasiswa pun dapat diredam. Bahkan elektabilitas Prabowo-Gibran malah makin naik,” kata Haidar

“Karena serangan dari luar gagal, makanya sekarang diserang dari dalam yaitu membenturkan Jokowi dan Prabowo dengan harapan memantik kebencian di antara kedua kubu sehingga dapat dengan mudah dikalahkan. Seperti politik divide et impera zaman kolonial,” tutur Haidar Alwi.

Baca Juga  Kualitas Udara di Jakarta Buruk, Ini Solusinya

Haidar juga menyoroti pernyataan Henry yang berbicara mengenai indikasi atau dugaan ketidaknetralan Polri di Pilpres 2024. Dalam video disebutkan Kapolri mengerahkan fungsi Binmas sebagai instrumen pemenangan pemilu untuk paslon Prabowo-Gibran.

“Narasi ketidaknetralan aparat memang kerap digaungkan oleh kubu pendukung capres-cawapres tertentu. Padahal Kapolri sudah berulangkali menegaskan bahwa institusinya netral,” kata Haidar.

Bahkan, lanjutnya, Presiden pun sering menyerukan agar ASN, TNI dan Polri menjaga netralitasnya di Pemilu nanti. Sehingga menurut Haidar, apa yang disampaikan oleh Henry mungkin bentuk kepanikan dari salah satu kubu capres-cawapres yang takut kalah.

“Tapi ini dapat mencoreng kewibawaan institusi Polri menggerus kepercayaan dan memupuk kebencian publik,” kata Haidar.

Pernyataan dari kedua tokoh tersebut menurutnya sangat memprihatinkan. Terlebih, Connie dan Henry menyampaikan hal itu di depan para purnawirawan dalam acara Mimbar Keprihatinan Bangsa dan Seruan Purnawirawan TNI-Polri di Jakarta pada Jumat, 9 Februari 2024 dan diunggah oleh akun YouTube Kanal Anak Bangsa milik Rudi S Kamri.

“Purnawirawan TNI-Polri seharusnya berperan membantu bangsa dan negara menjadi jembatan komunikasi dan peredam konflik di masyarakat. Bukan malah menjadi bagian dari penciptaan konflik itu sendiri,” ujar Haidar.

Haidar mengaku mendapatkan informasi bahwa para purnawirawan yang hadir di acara Mimbar Keprihatinan Bangsa dan Seruan Purnawirawan TNI-Polri di Jakarta merupakan para pendukung salah satu paslob Capres-Cawapres. Salah satu dari peserta yang hadir sempat mendeklarasikan dukungannya terhadap Ganjar melalui acara yang diinisiasi oleh Relawan Gapura Nusantara – organ pemenangan Ganjar dalam Pilpres 2024.

Tidak jauh berbeda dengan narasumber yang diundang sebagai pembicara. Mulai dari Connie Rahakundini akademisi sekaligus pengamat militer dan pertahanan yang terindikasi sebagai pendukung Ganjar-Mahfud. 

Lalu, kata Haidar, Henry Yosodiningrat yang notabene menjabat sebagai Wakil Deputi Hukum TPN Ganjar Mahfud. Kemudian, Ikrar Nusa Bhakti, mantan guru besar riset LIPI yang kontra dengan Jokowi. Selain itu, moderatornya Rudi S Kamri juga merupakan pendukung Ganjar-Mahfud.

“Peserta dan narasumbernya tidak berimbang. Jadi saya yakin ini acaranya memang acara pendukung Ganjar-Mahfud sehingga tujuannya sudah pasti untuk kepentingan Ganjar-Mahfud. Purnawirawan sebagai peserta dan akademisi sebagai narasumber hanya dijadikan kedok yang ditonjolkan agar kelihatannya seolah-olah netral. Padahal terafiliasi Ganjar-Mahfud,” kata Haidar Alwi.

Oleh karena itu, Haidar Alwi meminta masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh narasi atau informasi yang tidak jelas sumbernya atau hoaks dan sengaja disebarkan untuk menimbulkan kebencian kepada sesama maupun kepada penyelenggara negara.

“Aparat juga harus tegas menindak orang-orang yang berusaha mengacaukan pemilu dengan menyebarkan hoaks atau narasi kebencian agar menjadi pembelajaran bagi yang lainnya untuk tidak mengulangi hal yang sama ke depannya,” pungkas Haidar Alwi.

Halaman Selanjutnya

“Karena serangan dari luar gagal, makanya sekarang diserang dari dalam yaitu membenturkan Jokowi dan Prabowo dengan harapan memantik kebencian di antara kedua kubu sehingga dapat dengan mudah dikalahkan. Seperti politik divide et impera zaman kolonial,” tutur Haidar Alwi.

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *